Sunday, December 15, 2013

Shakespeare and Company ; Paris Iconic Book Store

   

       Ernest Hemingway sedang berjalan menapaki jalanan Paris menuju bangunan di daerah Rue de l’Odeon. Bangunan sempit yang sudah menjadi tempatnya menimba ilmu dengan mentornya Ezra Pound. Kepalanya kini sudah terasa ringan karena sedikit banyak isinya telah tersampaikan dilembar-lembar perkamen tua. Kini di hampir menyelesaikan bukunya yang berjudul Three Stories and Ten Poem (1923), berkat bantuan Sylvia pemilik bangunan yang seperti rumahnya sendiri itu. 
       
   Sore yang basah ini dia sengaja membawa beberapa roti Paris di tas kumalnya, dia ingin membaginya dengan Sylvia, Ezra, dan James. Mereka bertiga –kecuali Sylvia karena tempat itu memang milik Sylvia- berjanji akan bertemu lagi sore ini. Walaupun baru sore kemarin mereka bersama-sama mencari buku di Bouquinistes, pasar buku yang memanjang sepanjang sungai Seine. Tapi rasanya waktu sehari tidak akan cukup jika digunakan untuk bercakap-cakap dengan orang-orang jenius ini. Selalu saja ada topik yang bisa mereka bicarakan dihari kemudian, setelah sehari sebelumnya telah membahas banyak hal, misalnya tentang perang dunia yang entah kapan akan berakhir.

        Senyum Hemingway cerah ketika melihat pelataran bangunan itu, dilihatnya puncak topi James, pertanda bahwa mereka semua sudah berkumpul didalam bangunan. Saat akan menyebrang jalan, dilihatnya Sylvia, perempuan pemilik bangunan itu keluar ke teras untuk bergumam tentang hujan sore ini. namun urung karena melihat Hemingway yang berlari tergopoh menujunya.
      
          “Bonjour, Ernest,” sapa Sylvia dengan logat yang aneh. Maklum, Sylvia ini sebenarnya bukan orang Paris. Dia seorang ekspatriat dari Amerika. Dia bilang kota tempat tinggalnya bernama New Jersey.
           “Bonjour,” sapa Hemingway sambil membuka topinya. “Logatmu tidak berkembang juga.”
      
          Sylvia hanya tertawa renyah dan menyuruh Hemingway masuk. Dan dilihatnya bangunan yang penuh dengan buku-buku, lorong-lorong yang berilku-liku yang sisi-sisinya dipasangi rak buku. Beribu buku diletakkan di rak yang menempel pada dinding bangunan itu. 

 

      Dan seperti inilah keadaan Shakespeare and Company, toko buku yang juga sebuah perpustakaan. Yang dulunya terletak di celah sempit di daerah Rue Dupuytren, yang setelah dua tahun dipindahkan karena bangunan yang terlalu sempit jika digunakan pria-pria berbadan besar untuk beraktivitas setiap hari. 

Sylvia Beach bersama The Lost Generation
              Seperti biasa, si tua Ezra Pound, Hemingway selalu memanggilnya begitu sedang menikmati kopi hitamnya bersama satu tumpuk buku yang baru saja diambilnya dari rak buku Sylvia.
         
     “Bonjour, Pak Tua,” sapa Hemingway sedemikian rupa. Dan mulailah mereka, mereka yang dijuluki The Lost generation atau Generasi yang hilang. Si Hemingwaylah yang memimpin mereka. Bertahun-tahun bersama-sama menciptakan karya sastra masterpiece. Hingga, tidak ada lagi yang tidak mengenal nama mereka pada zaman itu.

     Mereka lah yang kini menjadi pioneer Gerakan Modern Paris. Membawa angin segar untuk kehidupan sastra di Benua Eropa atau di seluruh penjuru dunia. Namun, kini banyak percakapan mereka yang ternyata ada benarnya juga, tentang perang dunia. Karena dua puluh tahun kemudian, toko ini harus ditutup karena pecahnya Perang Dunia Kedua.

          Hingga seorang pemuda bernama George Whitman, yang mendedikasikan dirinya pada bidang sastra membuka kembali toko buku itu. meneruskannya hingga berpuluh, puluh tahun kemudian. Hingga toko favorit para penyair ini menjadi ikon kota mereka , Paris.

      Awalnya toko buku ini berada di daerah Reu La Bucherie, dengan nama Le Mistral. Namun, akhirnya pemuda asal Amerika itu mengganti namanya menjadi Shakespeare aand Company, seperti toko buku yang buka sepuluh tahun lalu, yang melegenda karena nama seorang Hemingway dan teman-temannya, para Generasi yang hilang. 

sylviabeach
Sylvia Beach


 

       Kini, di akhir 2013, dimusim dingin, toko bersejarah itu masih kokoh berdiri. Dikelola oleh anak si George Muda, yang kini sudah tiada, yang tidak berhasil mewujudkan cita-citanya untuk hidup sampai 100 tahun, dia hanya bisa bertahan sampai umurnya yang ke 98. Anaknya Sylvia Beach Whitman, persis nama pendirinya terdahulu, mengelola toko itu dengan apik. Namun juga tidak mengesampingkan jati diri toko buku itu. Sylvia membiarkan para penulis muda untuk menghabiskan waktunya disana tanpa batas. Bersama-sama meniti karier. Seperti yang dilakukan para Generasi yang hilang.  


SHAKESPEARE AND COMPANY

Shakespeare and Company adalah sebuah toko buku bersejarah yang tepat berada di jantung kota Paris. Yang berada dekat dengan Place Saint Michel, hanya beberapa langkah dari Notre Dame dan sungai Siene.

        Toko buku ini pertama didirikan oleh Sylvia Beach, seorang ekspatriat dari Amerika yang hobi membaca buku pada tahun 1919 di Rue Dupuytren, namun karena tempatnya yang keci, Sylvia memutuskan untuk memindahkannya ke rue de l'Odeon  pada tahun 1921. Di tahun-tahun inilah, para Generasi yang hilang seperti Ernest Hemingway, Ezra Pound, F. Scott Fitzgerald, Gertrude Stein, George Antheil and Man Ray menghabiskan waktu mereka di Shakespeare and Company, yang djuluki "Stratford-on-Odéon" oleh James Joyce, yang menggunakan Shakespeare and Company sebagai kantornya. Banyak buku antik yang bisa ditemukan disini, yang pada tahun-tahun tertentu dihentikan peredarannya karena menimbulkan kontroversi, seperti Lady Chatterley’s Lover larya D.H Lawrence yang dilarang di Inggris dan Amerika.

        Beach-lah yang pada awalnya menerbitkan buku James Joyce yang berjudul Ulysses pada tahun 1922, yang telah dilarang di Amerika dan Inggris. Hingga edisi berikutnya dari Ulysses diterbitkan dengan nama Shakespeare and Company. Membuat nama Shakespeare and Co. Mendunia.

surga pecinta buku klasik
        Toko buku Shakespeare and Company yang asil ditutup pada tanggal 14 Juni 1940 ketika adanya invansi Jerman ke Prancis pada masa Perang Dunia II. Namun, ada rumor kalau toko buku antik itu ditutup karena Beach menolak memberikan kopian terakhir buku Joyce yang berjudul Finnegans Wake kepada Opsir dari Jerman. Ketika perang dunia berakhir, Hemingway mengungkapkan secara pribadi bahwa toko itu dibuka kembali, namun nyatanya tidak, toko bersejarah tersebut tidak pernah dibuka lagi oleh Sylvia Beach, pemilik toko tersebut.

      Hingga tahun 1951, sebuah toko buku dengan nama Le Mistral dibuka di daerah Rue de la Bucherie oleh seorang pecinta saatra bernama George Whitman. George yag merupakan warga Amerika, tentu saja mengisi toko bukunya dnegan buku-buku berbahasa Inggris, seperti toko buku Sylvia Beach.

       Dan seperti layaknya Shakespeare and Company lama, Le Mistral juga menjadi sumber inspirasi bagi para penulis muda, pembaca, dan pelancong, juga semacam tempat berkumpulnya kaum Bohemian Paris lebih dari 60 tahun, seperti Allen Ginsberg, Gregory Corso, and William S. Burroughs, yang biasa disebut Beat Generation.

       Pada tahun 1964, Sylvia Beach meninggal, sehingga George Whitman mengganti nama tokonya menjadi Shakespeare and Company untuk menghormati Sylvia Beach. 
Whitman tua dan anaknya, Sylvia Beach Whitman

    Toko buku bersejarah itu sekarang memiliki beberapa fasilitas, seperti tempat tidur untuk yang suka menghabiskan waktunya di toko buku dari pada dirumah, yang berjumlah 13 temmpat tidur yang berada dibeberapa sudut toko buku, Whitman berkata bahwa setidaknya ada 40,000 orang yang tidur di toko bukunya hingga saat ini. Juga piano yang ada dilantai dua.
                
         Kini, setelah George Whitman meninggal di usianya yang ke 98 pada tanggal 14 December 2011, toko buku itu dikelola oleh anak perempuannya, Sylvia Beach Whitman. Seperti ayahnya, dia juga mengizinkan para penulis muda untuk merintis karier di toko buku mereka. 

seperti labirin buku
   Toko buku bersejarah ini juga dengan rutin mengadakan acara-acara seperti pembacaan puisi, Sunday Tea, hingga pertemuan dengan para penulis. Juga dengan diadakannya Festival Literatur setiap dua tahun sekali, menjadi sebuah bentuk apresiasi dan komitmen pemiliknya untuk tetap fokus pada kegiatan membaca dan event-event yang berhubungan dengan literatur.
     Dan karena ketenarannya, toko buku ini juga dijadikan lokasi syuting untuk film layar lebar, seperti Before Sunset (2004) yang diperankan oleh Ethan Hawke dan Midnight in Paris (2011) yang diperankan oleh Owen Wilson. 

Shakespeare and Co di Before Sunset


ALAMAT              : 37 Rue de la Bûcherie, arrondissement 5, Paris
JAM BUKA          : Senin – Jumat : 10.00 – 23.00
                                  Sabtu, Minggu : 11.00 – 23.00
TRANSPORTASI : Naik Metro, turun di Stasiun Saint Michel, lalu jalan kaki sebentar.
WEBSITE              : www.shakespeareandcompany.com


COMMENT         :
           Berhubungan saya suka sekali dengan hal begituan, saya tertarik sekali dengan toko  buku ini. walaupun jauhnya hingga Paris sana, kalau Allah mengizinkan saya pasti akan sampai sana. Saya ingin memasukkan nama toko buku ini dalam daftar tujuan saya ketika saya melancong keliling Eropa.
tangga ke lantai dua

            Rasanya sangat magis ketika saya masuk dan mendapati beribu buku tersusun rapi dirak buku yang membentuk labirin. Untuk saya itu merupakan surga dunia. Saya mungkin dengan senang hati tidur disana hanya untuk memuaskan hasrat saya membaca. Dan saya bersyukur bahwa sebagian besar buku di toko buku ini berbahasa Inggris walau tempatnya berasa di Perancis. Tapi, siapa tahu kalau memang saya diijinkan ke sana, saya akan tertarik mempelajari  bahasa Perancis.

            Namun, saya masih berpikir, apa yang membuat George Whitman mengganti nama toko bukunya dan memberikan nama anaknya sama dengan nama pemilik Shakespeare and Company yang asli. Apa hubungan mereka? Apa jasa Sylvia untuk George? Saya hanya bisa mengangkat bahu, siapa yang tau?
              
         Dan, saya baru menyadari ternyata kemarin tepat 2 tahun kematian George Whitman. Haha, membuat saya sagak tercengang karena saya juga beru kemarin merasa sangat tertarik dengan Toko buku bersejarah ini. Mungkin hanya kebetulan.

ini dia bed-nya, tiduran sambil baca buku
    Rekomendasi saya, masukkan Shakespeare and Company dalam daftar kunjungan anda jika anda pergi ke Paris. Toko buku ini juga berada di jantung kota Paris, tepat disamping Notre Dame, Saint Michel, dan sungai Seine yang terkenal. Jadi tidak akan rugi kalau sebentar saja mengunjungi toko buku ini, hanya untuk membayangkan Hemingway dan James Joyce menyusun karya mereka yang mendunia, lalu sorenya bisa menikmati kemagisan sungai Seine dan kemegahan Notre Dame.

           sekian.








Saturday, December 14, 2013

Shakespare and Company Book Store ; Treaser

  
     Baru-baru ini saya habis nonton 99 Cahaya di langit Eropa, dan salah satu scene di Paris memakai latar tempat ini. sebenarnya cuma sekilas, namun saya bisa langsung tertarik dengan Shakespare and Company ini. 
     Saya yang pada dasarnya suka membaca buku, dan suka hal-hal antik, merasa Shakespare ini kelihatannya sangat menarik diulas. Tapi, saya tidak akan mengulasnya sekarang, belum ada waktu. mungkin nanti malam. 
     Saya ingin mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang toko buku mungil nan bersejarah ini. usut punya usut ternyata Ernest Hemingway suka baca buku disini lho!

Friday, December 13, 2013

EXO - Don't Go (Korean Vers.)


Romanized:

Jogeuman nalgaetjit neol hyanghan ikkeullim naege ttaraora sonjitan geot gataseo
Aejeolhan nunbitgwa mueonui iyagi gaseume hoeoriga morachideon geunal bam
Omyohan geudaeui moseube neogseul noko hanappunin yeonghoneul ppaetgigo
Geudaeui momjise wanjeonhi chwihaeseo sum swineun geotjocha ijeobeorin nainde
Walcheucheoreom sappunhi anja nuneul ttel su eobseo siseoni jayeonseure georeummada neol ttaragajanha
Nal annaehaejwo
Yeah geudaega salgo inneun gose nado hamkke deryeogajwo
Oh, sesangui kkeuchirado dwittaragal teni
Budi nae siyaeseo beoseonaji marajwo achimi wado sarajiji marajwo oh
Kkumeul kkuneun georeum geudaen namanui areumdaun nabi
Oh, woo-hoo-hoo oh yeah- woo-hoo-hoo yeah woo-hoo-hoo
Eodiseo wanneunji eodiro ganeunji chinjeolhi yeogikkaji majungeul wajun neo
Gapareun oreumak kkakkajin jeolbyeokdo geokjeongma mueotdo duryeoul geosi eobseuni
Neoneun ppomnae uahan jatae
O! Nan myeot beonigo banhago
Sarangeun ireoke nado moreuge
Yegodo eobsi bulsie chajawa
Walcheucheoreom sappunhi anja nuneul ttel su eobseo siseoni jayeonseure georeummada neol ttaragajanha oh no
Nal annaehaejwo
Yeah geudaega salgo inneun gose nado hamkke deryeogajwo
Oh, sesangui kkeuchirado dwittaragal teni
Budi nae siyaeseo beoseonaji marajwo achimi wado sarajiji marajwo oh
Kkumeul kkuneun georeum geudaen namanui areumdaun nabi
Natseon goseul hemaenda haedo gireul irheobeorindaedo nuguboda soljikhan naui mameul ttareulgeoya
Joyonghi nune ttuineun momjit ganghago budeureoun nunbit
Geobuhal su eomneun nanikka yeah
Nal deryeogajwo
Yeah geudaega salgo inneun gose nado hamkke deryeogajwo
Oh, sesangui kkeuchirado ttaragalge oh no
Nae siyaeseo beoseonaji marajwo achimi wado sarajiji marajwo oh
Jogeumahan sonjit naui gaseumen hoeoriga chinda
Woo-hoo-hoo, woo-hoo-hoo, woo-hoo-hoo

English Translation:

The small fluttering of your wings seemed like it was telling me to follow you
The sad eyes and tacit stories in your heart that night in which the whirlwind was raging
I was mesmerized by the mysterious you and stared at you and had my one soul stolen
Because I am completely drunk at your movements, I even forgot how to breathe
Like a waltz, I sit lightly and can’t take my eyes off of you
My eyes naturally follow you every time you walk
Guide me yeah take me together with you to the place where you live
Oh even if the world ends, I’ll follow from behind you so please don’t go out of my sight
Even when the morning comes, don’t disappear oh
This walk that I’m dreaming
You’re my only beautiful butterfly
Oh, woo-hoo-hoo oh yeah- woo-hoo-hoo yeah woo-hoo-hoo
Wherever you came from, or wherever you’re going, up until now you always kindly greet me
A steep climb, the cliffs that cut off, don’t worry because there is no place to be afraid of
Your elegant figure oh I fall for it many times
Like this love, without even me knowing, comes and finds me unexpectedly
Like a waltz, I sit lightly and can’t take my eyes off of you
My eyes naturally follow you every time you walk
Guide me yeah take me together with you to the place where you live
Oh even if the world ends, I’ll follow from behind you so please don’t go out of my sight
Even when the morning comes, don’t disappear oh
This walk that I’m dreaming
You’re my only beautiful butterfly
Oh, woo-hoo-hoo oh yeah- woo-hoo-hoo yeah woo-hoo-hoo
Even if we wander in unfamiliar places, even if we get lost
I’ll follow my heart that’s more honest than anyone else’s
Because I can’t resist your quiet movements that strike me, and your sharp and soft gaze
Take me yeah take me together with you to the place where you live
Oh even if the world ends, I’ll follow you
Oh no don’t go out of my sight
Even when the morning comes, don’t disappear oh
A small wave of your hand makes a whirlwind strike in my heart
Woo woo hoo~ woo woo hoo~ woo woo hoo~

Read more: http://www.kpoplyrics.net/exo-dont-go-lyrics-english-romanized.html#ixzz2nQbJy3w5

4R ; The Chronicles of Audy



                

        Ketika saya sedang main dengan teman-teman saya ke Gramedia di Solo Square, saya pertama kali melihat buku ini. walau sampulnya terlihat tidak begitu menarik, tapi saya langsung terpaku pada nama pengarangnya, Kak Orizuka. Yang merupakan salah satu penulis yang saya gandrungi, dan saya nantikan tulisan-tulisannya.
                Sebenarnya saya tahu kalau Kak Orizuka sudah menerbitkan buku baru, tapi berhubung saat itu pikiran saya hanya bergumul tentang kenaikan saya ke kelas 3 SMA, saya menyangsikan untuk bisa membeli novel baru. Jadi saat saya melihatnya di tumpukan buku baru, saya sengaja tidak memegangnya karena takut tergoda. Lebih baik nanti pinjam di tempat komunitas baca saya.
                Teman saya sampai heran, dan malah mengambilkan buku itu dan menunjukkannya pada saya, “Lah, ini ada Orizuka baru. Kamu nggak beli?” Aku hanya menggeleng kecut sambil melenggang ke rak buku pelajaran. Saya harus serius.
                Sampai hari ini, saya akhirnya berhasil juga membaca buku itu setelah banyak sekali tugas dan ulangan yang memaksa saya vakum dari dunia fiksi.
                Dan saya mengangkat jempol saya tinggi-tinggi untuk buku terbaru kak Ori ini, yang berjudul 4R.
                Memang, seperti biasa Kak Ori menyusun ceritanya dengan baik, runut, dan menarik. Konfliknya jelas dan lucu. Ringan, untuk teman baca disela-sela membuat laporan Kimia tentang Titik Beku. Seperti biasa juga, karakter yang diciptakan Kak Ori selalu kuat dan lugas. Karakter kuat itulah yang saya kurang temukan pada penulis-penulis lain baru-baru ini. jadi, setelah sekian lama menunggu karya yang ringan untuk dibaca, juga menarik dan membuat saya jatuh bangun, saya suka sekali dengan cerita The Chronicles of Audy : 4R ini.
                Tentang Regan, yang ganteng dan suka memperalat. Romeo si pengangguran pemalas yang bisa bayar listrik dengan uangnya sendiri, Rex yang adorable, genius juga tipe idaman saya (dalam cerita dia seumuran dengan saya), dan Rafael, balita yang suka baca majalah Playboy.
Dan Audy yang memiliki karakter kuat dan ceria, yang selalu hadir dalam setiap karya Kak Ori. Sekarang saya tahu kenapa Kak Ori suka sekali dengan karakter seperti Jingga, Kana, Audy, Dena, yang berisik dan ceria. Karena karakter seperti itulah yang membuat cerita menjadi manis, dengan celetukannya yang sembarangan, lucu, dan terkadang terlalu jujur.
Karakter seperti inilah yang saya suka dari karya Kak Ori. Tapi, saya berharap Kak Ori bisa mencoba membuat karakter baru seperti Song Eun Jo di Cinderella Step’s Sister, mungkin saja bisa membuat jantung saya copot kalau-kalau Kak Ori benar-benar membuat karakter seperti itu. Oh ya, karakter Park Jae In dalam Oppa And I, belum terlalu sadis.
Dalam 4R ini, terus terang saya paling suka karakter Rex. Bukan karena hal dia ganteng dan Ice Prince, tapi saya melihat kalau karakter Rex-lah yang selama ini selalu membuat saya adorable. Saya sedikit banyak mirip seperti Rex, walau tidak judes dan saya banyak omong. Tapi, teman-teman saya selalu berpendapat kalau saya ini sinis dan ‘jleb’ kalau sedang bicara. Dan karakter Rex ini membuat saya sadar, bahwa sedikit banyak saya harus introspeksi diri saya sebelum saya berbuat banyak kesalahan. Mengingat banyak sekali sakit hati yang diterima Audy saat Rex berkomentar. Saya tidak mau memiliki banyak musuh ditahun terakhir saya memakai seragam putih abu.
Kembali ke novel, begini, tapi saya menyadari bahwa Kak Ori mempunyai sedikit kelemahan dalam segi cerita. Saya tahu, bahwa kesamaan adegan atau cerita kadang tidak disengaja, atau cerita itu terlalu pasaran/sinetron. Karya Kak Ori lebih ke opsi yang kedua, seperti sinetron. Seperti yang Kak Ori perlihatkan pada Fate.
Tapi, semua itu kandas. Kalau melihat kuatnya karakter Kak Ori. Seperti kata teman diskusi saya, cerita boleh mirip, tapi ke orisinilan karakter itulah yang menjadi daya tarik tersendiri. Dan hal ini yang menjadi kelebihan semua novel Kak Ori. Hal tersebutlah yang selalu membuat saya bertanya-tanya ‘Kak Orizuka ada yang baru nggak?’ pada teman komunitas baca saya.
Saya benar-benar suka dengan cerita Audy dengan 4R. Saya suka karakter mereka. Saya berharap seri selanjutnya bisa lebih menarik, walaupun saya sedikit banyak bisa menebak cerita lanjutannya. Yah, walaupun saya rasa tidak terlalu akurat.

Sinopsis The Chronicles of Audy : 4R
Audy Nagisa adalah mahasiswa telat lulus dari Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada yang sedang berjuang untuk skripsinya. Tapi ada-ada saja yang menghalangi dirinya menyelesaikan sekolahnya. Mulai dari orang tuanya yang katanya terlalu bodoh atau lugu hingga selalu tertipu jika ingin membuka bisnis baru, mulai dari perkebunan jagung dan peternakan ayam yang ternyata hanya investasi bodong, dan membuat keluarga Audy bangkrut. Padahal Audy masih memiliki adik laki-laki yang masih butuh biaya sekolah yang banyak, dan satu-satunya cara agar Audy bisa bangkit dari kemiskinan ini hanyalah lulus dan mencari pekerjaan. Namun, karena keterbatasan biaya, apalagi kedua orang tuanya baru saja ditipu (lagi), membuat Audy harus menunggak uang kuliah dan kos selama 3 bulan.
Hal tersebut memaksa Audy untuk mau tidak mau mencari pekerjaan. Dan terdamparlah ia dirumah 4R, yang berantakan bagaikan baru saja diserang teroris. Yang awalnya ditawari jadi seorang babysitter, Audy malah terjebak dengan kontrak karena buru-buru tanda tangan kontrak bahkan sebelum di membaca semua isi kontraknya karena saking senangnya kalau gajinya dapat dibayar dimuka.
Kini Audy malah menjadi pembantu dirumah 4R itu. Yang berisi 4 orang cowok yang memiliki sifat aneh-aneh tapi sangat ganteng. Regan yang ganteng tapi jago memperalat dan sangat perhitungan. Romeo, pemalas yang sehari-hari hanya main games dan mandi hanya seminggu sekali, tapi punya otak yang cerdas. Rex, si jenuis yang dingin yang ternyata memiliki kesamaan dengan Audy. Dan si bungsu Rafael, yang sepertinya dewasa belum waktunya.
Pada awalnya Audy merasa tidak kuat harus menghadapi manusia-manusia aneh ini. Sampai suatu saat, Audy terpaksa harus tinggal bersama mereka berempat, hidup bersama mereka berempat, dan menjadi bagian dari mereka berempat.
Audy jadi ingin lebih mengenal mereka berempat, ingin menjadi bagian dari mereka berempat, dan malah menemukan banyak makna setelah dia tinggal cukup lama dengan mereka. Memahami mereka yang ditinggal mati kedua orang tuanya, dan cintanya yang harus bertepuk sebelah tangan pada Regan karena alasan yang rumit dan menyakitkan.
Bagaimana dia menyadari bahwa keluarga merupakan hal yang paling berharga didunia. Bagaiman dia menyadari bahwa orang tuanya juga sangat menyayanginya walaupun bodoh, lugunya tidak ketulungan. Menyadari bahwa setidaknya kita harus punya hal yang ingin kita lindungi didunia ini.

Notes :
Sekarang saya jadi berniat beli buku ini, karena sekarang saya hanya modal minjam dulu, hehe.

Anak Kelas 3 SMA : The Dead End but Not The Dead End

        bisa dibilang surga, juga bisa dibilang neraka. itulah masa-masa terakhir SMA. dimana tugas menumpuk, pertanyaan tentang masa depan, dan pikiran tentang pengaruh masa lalu tentang masa depan.
        ini sebenarnya yang ingin saya bicarakan. sedikit curhat, kalau saya menyesal, karena saya tidak memulai perjuangan mencari PTN saya dari dulu. kini ketika saya melihat nilai-nilai saya di rapot, saya merasa menyesal dan kesal pada didri saya sendiri. 
      namun saya juga tidak bisa memotivasi diri saya untuk memperbaiki nilai saya di semester terakhir ini. contohnya, saya tetap tidak rajin belajar walau tahu kalau besok ada Ujian Semesteran. saya lebih memilih tidur, memikirkan PTN saya. sesuatu yang sebenarnya tidak ada gunanya kalau saya tidak berusaha untuk membuat nilai saya yang jeblok menjadi gemilang. 
        namun saya berpikir, berpikir, dan berpikir. sebenarnya saya ini terlalu mekasakan kehendak atau tidak. nyatanya saya tidak suka belajar tapi saya targetkan diri saya untuk bisa masuk Geofisika UGM. saya ini terlalu sok, mungkin. terlalu bermimpi, mungkin. tapi ketika saya berpikir seperti itu, teringatlah saya dengan wajah ayah saya yang berbinar ketika saya berkata saya akan berusaha untuk masuk Geofisika UGM. 
         benar-benar beban yang sangat berat.
dan hal itulah yang membuat saya lupa akan satu hal, cita-cita saya dari dulu. saya hampir saj melupakan hal itu. saya ingin menjadi penulis. saya lupa bahwa menjadi penulis sesungguhnya merupakan tujuansaya dari awal. namun, karena banyaknya pikiran yang harus saya pikirkan secara bersamaan, saya lupa. 
        sekarang saya berpikir, untuk menyerahkan senyum cerah ayah saya. dan menukarnya dengan cita-cita awal saya, penulis. sebenarnya ayah membebaskan saya untuk memilih bidang apapun yang saya suka. namun karena background ayah adalah IPA, pastinya ayah akan lebih menghargai saya jika saya bisa masuk Geofisika dan menjadi peneliti. ayah akan lebih bangga tentu saja.
         tapi, saya juga mempertimbangkan, seandainya saja saya bisa diterima di Geofisika (AMIN), apakah saya bisa keluar dengan mulus? ataukah saya akan emnjadi mahasiswa abadi disana? 
          kemarin lusa, saya mendapat seminar, dan yang paling menohok saya yaitu bahwa dalam memilih jurusan yang terbaik untuk kita adalah bidang dimana kita sukai. saya mulai berpikir, apakah saya menyukai Geofisika. dan jujur saya suka karena menurut saya mapel Geografi itu lebih menarik dibandingkan mapel yang lain. dan tentang masa lalu, saya jadi menyesal ketika kelas 2 SMA saya memutuskan untuk keluar dari OSN Geosains. 
          dan kini saya masih bingung, tentang jurusan mana yang sebaiknya saya ambil. dimana seharusnya saya meletakkan pilihan saya. dimana saya seharusnya meletakkan prioritas saya. senyum cerah ayah saya atau senyum cerah diri saya sendiri. 
        

My New Project : Wish Me Luck!



         Sebenarnya ini hanya ide yang melintas, aku juga belum dapat cerita selanjutnya. tapi, aku akan mencoba untuk meneruskan cerita awal ini. belum ada judul, but I think i'm gonna make it. I trust myself.


Semuanya berawal pada saat itu.
                Aku sudah berkata bahwa aku tidak sengaja, dan aku bersungguh-sungguh dengan kata-kataku itu. Bahwa aku sanggup bersumpah aku tidak bermaksud berkata demikian. Tapi dia tidak pernah sekali pun percaya padaku. dia yang membunuh dirinya sendiri. Menusuk dirinya dengan kebenaran yang dia abaikan sendiri. Aku bukan yang membunuhnya.
                Aku berkeliling, melihat satu persatu pelayat yang datang ke pemakaman. Semua menatapku tidak percaya. Berani-beraninya sang pembunuh datang ke pemakaman korban, mungkin begitu pikiran mereka. Mata mereka terus menatapku sengit, seakan-akan aku ini adalah sampah masyarakat yang pantas dihilangkan.
                Namun, aku menatap satu pandangan yang daritadi kucari-cari. Pandangan yang tak kunjung kutemukan karena seharian menunduk terus, menangis, memejamkan mata sedih. Aku tak sanggup menarik pandangannya untuk menatapku. Sekedar melihat diriku, dia tidak sanggup. Atau aku yang tak sanggup menatap matanya yang basah itu.
                Tapi, sekarang dia menatapku. Tidak ada penghakiman dalam tatapannya, seperti yang seharian ini aku temukan dimata para pelayat. Namun, ada satu yang menggangguku dari tatapannya. Rasanya seperti melihat danau yang hitam tak terbayang, sepi, tak ada nyawa. Tatapan ini membuatku gelisah.
Sebenarnya apa yang telah aku perbuat padanya. sebegitukah dalamnya rasa sedih ketika Hwan-nya mati. Apa aku yang menyebabkan mata yang selalu menatap tidak suka padaku itu kini menatapku tanpa nyawa. Seakan-akan ketika Hwan pergi, nyawanya pun juga ikut pergi.
Apa yang telah aku perbuat padanya? pada Hwan? Aku tidak bisa lagi menatap wajah itu. aku segera memalingkna wajah dan menatap Maria, gadis blasteran teman sekelasku yang menemaniku melayat Hwan. Dia tak balas menatapku. Maria menatap lurus pada wajah gadis yang seakan-akan sudah kehilangan nyawanya itu.
“Hwan,” celetuk Maria, “dia kekasih Hwan?” gumam Maria lirih. Entah untukku atau untuk siapa. Tapi, tak urung aku menjawabnya juga.
“Aku rasa dia mencintai Hwan,” jawabku. Hwan tidak pernah berkata kalau dia punya pacar, aku hanya menyimpulkan dari apa yang aku lihat, gadis itu selalu menegurku kalau aku ada dirumah Hwan dan merongrongnya untuk pergi menggelandang bersamaku.
“Aku pernah melihatnya, lebih tepat fotonya,” kali ini Maria menatapku. “Hwan menyimpan fotonya di dompetnya.”
Aku dan Maria cukup mengenal Hwan. Hwan bukan orang yang suka menyimpan foto orang tanpa berarti apa-apa. Kalau wajah gadis itu memang ada didompetnya Hwan, berarti gadis itu juga berarti untuk Hwan.
Tiba-tiba beribu rasa bersalah menerjangku. Seharusnya aku bawa, atau lebih tepatnya aku seret Hwan dari lapangan itu. dunia gangster memang bukan dunia Hwan sejak lama. Tapi aku yang menarik Hwan untuk ikut denganku, membantuku agar aku bisa masuk geng sekolah Seungri.
Tapi, disisi lain aku juga merasa tidak bersalah. Hwan pergi tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Dan dengan kemauannya sendiri. Padahal aku sudah bilang kepadanya bahwa ketua geng itu tidak akan pergi tanpa anak buahnya, sudah pasti itu hanya omong kosong ketika dia menyuruh Hwan untuk datang melawan dia, one on one.
Dan itu memang omong kosong. Ketika aku sudah berdiri tepat didepannya. Hanya jalan yang membatasi kami. Hwan terhuyung berjalan kepadaku. Aku tahu sekilas dia memanggil namaku smabil tersenyum.
Dan yang terakhir, juga bukan salahku kalau beberapa detik kemudian ada truk minyak yang menabraknya.
Kalau mengingat tentang itu rasanya aku ingin muntah dan menangis. Tapi, aku tidak bisa menangis didepan mata-mata yang menghakimiku. Pikir mereka bahwa aku tak punya alasan sedikitpun untuk meneteskan air mata.
Padahal alasan untuk menangis bisa melebihi jumlah jari manusia. Tapi yang paling menonjol adalah, apakah aku tidak boleh menangis saat teman, sahabatku mati didepan mataku sendiri? Bahwa aku bisa saja menyelamatkan nyawanya dengan berlari mendorongnya lagi ke pinggir jalan tempat dimana dia terakhir tersenyum dan menyebut namaku. Aku seperti orang cacat, saat melihat daranya bercecer dijalan. Satu-satunya yang aku pikirkan saat itu hanya menelfon Maria.
Dan aku beruntung Maria cukup tenang dan membantuku memberi tahu keluarga Hwan. Termasuk gadis itu. Yang aku tidak tahu namanya. Atau aku pernah mendengar Hwan menyebut gadis ini, mungkin aku lupa. Kalau memang gadis ini berarti untuk Hwan, paling tidak Hwan akan pernah menyebutnya sekali.
Tatapanku beralih ke gadis itu, yang sekarang sedang mencoba berdiri, tapi seketika itu terjatuh. Aku bisa melihat raut wajahnya. Kesal, sedih, marah, dia mendelik pada foto Hwan yang ada di altar, dan menggumam. Tapi, akhirnya dia tetap duduk, tatapan wajahnya saat memandang wajah Hwan berubah. Tangisnya tak bersuara, tapi aku lihat air matanya yang terus menerus mengalir.
Kalau saja Hwan masih hidup, dia pasti senang kalau ada orang yang menangisinya sampai demikian. Ya, kalau saja Hwan masih hidup dan berlagak menjadi kakakku.
Lalu tiba-tiba terdengar keributan diluar ruang pelayatan. Seperti orang sedang menerobos masuk. Menyuruh para pelayat yang ingin beranjak pulang, minggir untuk memberi jalan padanya. aku menebak-nebak siapa gerangan orang itu. mungkin salah satu yang mencintai Hwan.
Aku tersenyum sinis, banyak sekali yang mencintai Hwan.
“Hwan-a, Hwan-a, Hwan-a,” seorang laki-laki yang sangat mirip Hwan masuk dengan wajah pias. Memanggil-manggil nama Hwan dengan putus asa. Saat dia benar-benar bisa menatap foto Hwan di altar, dan beralih kepada ibunya yang bersimpuh di depan altar Hwan. Kakinya melemas, dan dia terjatuh.
Saat itu ibu Hwan menoleh, air matanya yang sudah surut tiba-tiba menggenang lagi. Ibu Hwan menangis meraung kembali, seperti saat melihat mayat Hwan. Kali ini sembari memukul-mukul lengan anak sulungnya.
“Kenapa kau baru datang sekarang? Kenapa baru sekarang? Kau akan tahu bagaimana kecewanya adikmu kalau tahu kau mementingkan pekerjaanmu disaat-saat seperti ini,” ratap ibu Hwan. “Kau seharusnya yang paling tahu adikmu. Kenapa adikmu bisa jadi seperti ini. kau yang seharusnya paling tahu. Kau Hyung-nya. Dasar anak nakal.”
Air mata perlahan turun dipipi kakak Hwan. Aku ingat Hwan pernah bercerita tentang kakaknya yang seorang peneliti laut. Yang pulang hanya ketika Hwan menyuruhnya pulang. Yang selalu berkata kepada Hwan bahwa yang paling benar didunia ini adalah selalu melawan ketakutannya sendiri.
Melihat begitu miripnya Hwan dengan kakaknya membuatku miris. Seperti melihat duplikat Hwan, namun dengan kulit terbakar matahari.
Selama sesaat hanya terdengar tangisan ibu Hwan dan diam dari kakak Hwan, namun keheningan itu pecah saat gadis tadi bangkit, bisa bangkit juga dia. Aku bahkan tidak memperthatikannya tadi, bagaimana reaksinya. Tapi aku melihat perubahan tatapan mata, yang tadinya berisi kepedihan, kini mengeras membentuk sesuatu yang lain. Amarah, mungkin.
“Oppa, kau harus berganti pakaian, kau yang akan mengantar Hwan menuju rumah abu,” kata gadis itu. sejenak aku tertegun mendengar suara tegas gadis itu. gadis yang dari tadi menunduk sedih, menangis, meratap. Kini suaranya setajam pisau. Membuatku meringis. Sebegitu menderitanya dia karena kepergian Hwan.
“Soo-jung-a, siapa yang membuat Hwan menjadi seperti ini?” kata kakak Hwan sambil menerawang.
“Kau boleh tanya kepadanya,” gadis itu menunjukku. “Dia yang lebih tahu.”
Kali ini tatapan gadis itu beranjak ke wajahku, begitu juga kakak Hwan.
“Kau.” Kakak Hwan menggeram saat dia melepaskan tangan ibunya dan berderap menuju tempat duduk bersama Maria.
Dengan sigap dan tanpa tedeng aling-aling, dia mencengkram kerah kemejaku. Menatapku sengit penuh amarah. Maria memegangi tanganku, tapi tak sanggup melepaskan cengkraman kakak Hwan.
“Kau, kau yang meangajak Hwan ikut geng, kau yang membuat Hwan menjadi seperti ini,” ujarnya. “Kembalikan Hwan. Kembalikan.”
Aku sedikit bingung ketika mendengar ucapan kakak Hwan, sedari tadi aku hanya mendapat tatapan kesal dan amarah tapi belum kata-kata. Ibu Hwan pun tak berbicara padaku hari ini, hanya pamannya.
Jadi aku hanya bisa diam, menahan rasa sedihku. Aku ingin sekali berkata bahwa aku bukan penyebab kematian Hwan. Aku berusaha mencegahnya tapi dia tidak menggubrisku. Tapi, aku tidak menemukan kebenaran dalam kata-kataku. Aku sadar bahwa aku yang mengajak Hwan untuk ikut bersamaku. Menjadi keren dengan masuk geng.
“Seung joon benar-benar bukan penyebab kematian Hwan,” kata Maria, dia memegang tangan kakak Hwan yang mencengkeram kerah bajuku. Dia mewakili apa yang ingin aku katakan.
“Aku tidak peduli. Dialah yang menyebabkan Hwan mati. Aku tahu itu dia. Hwan selalu berkata bahwa seharusnya Hwan menjauhi anak ini, tapi Hwan berkata dia tidak bisa. Dialah yang membuat Hwan menjadi seperti ini,” kata kakak Hwan keras.
Aku merasa semakin lama kata-kata kakak Hwan ini seperti perkataan anak kecil yang meminta selalu dibenarkan dalam segala hal. Dan dalam kata-katanya tidak ada sama sekali yang bisa untuk dibenarkan.
Tapi sebelum aku angkat bicara, suara keras, dingin, dan setajam pisau terdengar. Gadis itu berbicara sambil matanya melotot, “Bukan dia yang menyebabkan Hwan mati. Oppa yang selalu mengajari Hwan untuk tidak jadi pengecut. Oppa yang selalu mengjari Hwan untuk membunuh ketakutannya sendiri. Oppa yang mengajari Hwan untuk menjadi laki-laki. Oppa yang manjadikan Hwan pemberani dan bukan pengecut. Tapi Hwan mudah dibohongi. Oppa lupa mengajari Hwan untuk hati-hati dan waspada, Oppa belum mengajari bagaimana mengetahu mana yang berbohong mana yang jujur. Oppa lupa. Oppa selalu lupa. Padahal Hwan hanya punya Oppa.”
Perkataan gadis itu mengendurkan cengkraman tangan Kakak Hwan dikerah kemajaku. Kakak Hwan menatap gadis bernama Soo Jung itu dengan tidak percaya.
Kini aku bisa melihat langsung, wajah gadis itu, kerut amarah memang terlihat disana. Sangat kentara. “Oppa yang membunuhnya. Hwan mati karena Oppa, “ dia berkata lirih.
Tapi tiba-tiba wajah itu mengerut sedih, terlipat-lipat sedih. Kepedihan didalamnya tak tertangguhkan lagi, “Oppa seharusnya mengajarinya untuk mengalah, mengajarinya untuk takut padahal yang masuk akal. Oppa seharusnya mengajarinya banyak lagi. OPPAAAA!!!” gadis itu berteriak, memukul-mukul lengan kakak Hwan. Suaranya yang mengoyak hati, terdengar pedih sekali. Aku bahkan tidak tahan untuk mendengarnya lagi.  Ibu Hwan kembali menangis meraung-raung.
Kini, dengan tangan Maria yang mencengkram lenganku, mengajakku untuk pergi. Maria juga tidak tahan dengan segala isak tangis ini. aku sadar banyak sekali orang yang mencintai Hwan. Gadis ini, menangis seperti belahan jiwanya pergi, seakan-akan kalau Hwan tidak ada, dia tidak, bisa hidup lagi. Suatu bentuk cinta baru yang sekarang baru aku ketahui.
Ibu Hwan yang meraung-raung. Menyadari anak bungsunya pergi tepat saat beliau akan berusia setengah abad. Suatu bentuk cinta yang aku juga baru sadari, ada didunia ini.
Dan kakak Hwan, yang hampir setengah gila mendengar adiknya meniggalkannya duluan. Suatu bentuk perlindungan yang bahkan tak sempat aku pikirkan.
Singkatnya Hwan memiliki apapun didunia ini yang aku tidak miliki. Banyak cinta yang dimiliki Hwan yang aku tidak sanggup miliki, membayangkan pun aku tidak berani. Kalau aku jadi Hwan, aku tidak akan menyia-nyiakan kehidupanku ini. kalau aku memiliki semua itu, aku pasti setiap pagi akan bangun dengan semangat, menyapa ibu yang sedang membuat sarapan didapur, mengetik sms untuk Hyung-ku, dan menjemput Soo Jung untuk berangkat bersama. Barangkali besoknya aku akan meminta Soo Jung untuk jadi pacarku.
Semua milik Hwan ini tersia-siakan. Semua milik Hwan yang ingin aku miliki.