Friday, December 13, 2013

My New Project : Wish Me Luck!



         Sebenarnya ini hanya ide yang melintas, aku juga belum dapat cerita selanjutnya. tapi, aku akan mencoba untuk meneruskan cerita awal ini. belum ada judul, but I think i'm gonna make it. I trust myself.


Semuanya berawal pada saat itu.
                Aku sudah berkata bahwa aku tidak sengaja, dan aku bersungguh-sungguh dengan kata-kataku itu. Bahwa aku sanggup bersumpah aku tidak bermaksud berkata demikian. Tapi dia tidak pernah sekali pun percaya padaku. dia yang membunuh dirinya sendiri. Menusuk dirinya dengan kebenaran yang dia abaikan sendiri. Aku bukan yang membunuhnya.
                Aku berkeliling, melihat satu persatu pelayat yang datang ke pemakaman. Semua menatapku tidak percaya. Berani-beraninya sang pembunuh datang ke pemakaman korban, mungkin begitu pikiran mereka. Mata mereka terus menatapku sengit, seakan-akan aku ini adalah sampah masyarakat yang pantas dihilangkan.
                Namun, aku menatap satu pandangan yang daritadi kucari-cari. Pandangan yang tak kunjung kutemukan karena seharian menunduk terus, menangis, memejamkan mata sedih. Aku tak sanggup menarik pandangannya untuk menatapku. Sekedar melihat diriku, dia tidak sanggup. Atau aku yang tak sanggup menatap matanya yang basah itu.
                Tapi, sekarang dia menatapku. Tidak ada penghakiman dalam tatapannya, seperti yang seharian ini aku temukan dimata para pelayat. Namun, ada satu yang menggangguku dari tatapannya. Rasanya seperti melihat danau yang hitam tak terbayang, sepi, tak ada nyawa. Tatapan ini membuatku gelisah.
Sebenarnya apa yang telah aku perbuat padanya. sebegitukah dalamnya rasa sedih ketika Hwan-nya mati. Apa aku yang menyebabkan mata yang selalu menatap tidak suka padaku itu kini menatapku tanpa nyawa. Seakan-akan ketika Hwan pergi, nyawanya pun juga ikut pergi.
Apa yang telah aku perbuat padanya? pada Hwan? Aku tidak bisa lagi menatap wajah itu. aku segera memalingkna wajah dan menatap Maria, gadis blasteran teman sekelasku yang menemaniku melayat Hwan. Dia tak balas menatapku. Maria menatap lurus pada wajah gadis yang seakan-akan sudah kehilangan nyawanya itu.
“Hwan,” celetuk Maria, “dia kekasih Hwan?” gumam Maria lirih. Entah untukku atau untuk siapa. Tapi, tak urung aku menjawabnya juga.
“Aku rasa dia mencintai Hwan,” jawabku. Hwan tidak pernah berkata kalau dia punya pacar, aku hanya menyimpulkan dari apa yang aku lihat, gadis itu selalu menegurku kalau aku ada dirumah Hwan dan merongrongnya untuk pergi menggelandang bersamaku.
“Aku pernah melihatnya, lebih tepat fotonya,” kali ini Maria menatapku. “Hwan menyimpan fotonya di dompetnya.”
Aku dan Maria cukup mengenal Hwan. Hwan bukan orang yang suka menyimpan foto orang tanpa berarti apa-apa. Kalau wajah gadis itu memang ada didompetnya Hwan, berarti gadis itu juga berarti untuk Hwan.
Tiba-tiba beribu rasa bersalah menerjangku. Seharusnya aku bawa, atau lebih tepatnya aku seret Hwan dari lapangan itu. dunia gangster memang bukan dunia Hwan sejak lama. Tapi aku yang menarik Hwan untuk ikut denganku, membantuku agar aku bisa masuk geng sekolah Seungri.
Tapi, disisi lain aku juga merasa tidak bersalah. Hwan pergi tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Dan dengan kemauannya sendiri. Padahal aku sudah bilang kepadanya bahwa ketua geng itu tidak akan pergi tanpa anak buahnya, sudah pasti itu hanya omong kosong ketika dia menyuruh Hwan untuk datang melawan dia, one on one.
Dan itu memang omong kosong. Ketika aku sudah berdiri tepat didepannya. Hanya jalan yang membatasi kami. Hwan terhuyung berjalan kepadaku. Aku tahu sekilas dia memanggil namaku smabil tersenyum.
Dan yang terakhir, juga bukan salahku kalau beberapa detik kemudian ada truk minyak yang menabraknya.
Kalau mengingat tentang itu rasanya aku ingin muntah dan menangis. Tapi, aku tidak bisa menangis didepan mata-mata yang menghakimiku. Pikir mereka bahwa aku tak punya alasan sedikitpun untuk meneteskan air mata.
Padahal alasan untuk menangis bisa melebihi jumlah jari manusia. Tapi yang paling menonjol adalah, apakah aku tidak boleh menangis saat teman, sahabatku mati didepan mataku sendiri? Bahwa aku bisa saja menyelamatkan nyawanya dengan berlari mendorongnya lagi ke pinggir jalan tempat dimana dia terakhir tersenyum dan menyebut namaku. Aku seperti orang cacat, saat melihat daranya bercecer dijalan. Satu-satunya yang aku pikirkan saat itu hanya menelfon Maria.
Dan aku beruntung Maria cukup tenang dan membantuku memberi tahu keluarga Hwan. Termasuk gadis itu. Yang aku tidak tahu namanya. Atau aku pernah mendengar Hwan menyebut gadis ini, mungkin aku lupa. Kalau memang gadis ini berarti untuk Hwan, paling tidak Hwan akan pernah menyebutnya sekali.
Tatapanku beralih ke gadis itu, yang sekarang sedang mencoba berdiri, tapi seketika itu terjatuh. Aku bisa melihat raut wajahnya. Kesal, sedih, marah, dia mendelik pada foto Hwan yang ada di altar, dan menggumam. Tapi, akhirnya dia tetap duduk, tatapan wajahnya saat memandang wajah Hwan berubah. Tangisnya tak bersuara, tapi aku lihat air matanya yang terus menerus mengalir.
Kalau saja Hwan masih hidup, dia pasti senang kalau ada orang yang menangisinya sampai demikian. Ya, kalau saja Hwan masih hidup dan berlagak menjadi kakakku.
Lalu tiba-tiba terdengar keributan diluar ruang pelayatan. Seperti orang sedang menerobos masuk. Menyuruh para pelayat yang ingin beranjak pulang, minggir untuk memberi jalan padanya. aku menebak-nebak siapa gerangan orang itu. mungkin salah satu yang mencintai Hwan.
Aku tersenyum sinis, banyak sekali yang mencintai Hwan.
“Hwan-a, Hwan-a, Hwan-a,” seorang laki-laki yang sangat mirip Hwan masuk dengan wajah pias. Memanggil-manggil nama Hwan dengan putus asa. Saat dia benar-benar bisa menatap foto Hwan di altar, dan beralih kepada ibunya yang bersimpuh di depan altar Hwan. Kakinya melemas, dan dia terjatuh.
Saat itu ibu Hwan menoleh, air matanya yang sudah surut tiba-tiba menggenang lagi. Ibu Hwan menangis meraung kembali, seperti saat melihat mayat Hwan. Kali ini sembari memukul-mukul lengan anak sulungnya.
“Kenapa kau baru datang sekarang? Kenapa baru sekarang? Kau akan tahu bagaimana kecewanya adikmu kalau tahu kau mementingkan pekerjaanmu disaat-saat seperti ini,” ratap ibu Hwan. “Kau seharusnya yang paling tahu adikmu. Kenapa adikmu bisa jadi seperti ini. kau yang seharusnya paling tahu. Kau Hyung-nya. Dasar anak nakal.”
Air mata perlahan turun dipipi kakak Hwan. Aku ingat Hwan pernah bercerita tentang kakaknya yang seorang peneliti laut. Yang pulang hanya ketika Hwan menyuruhnya pulang. Yang selalu berkata kepada Hwan bahwa yang paling benar didunia ini adalah selalu melawan ketakutannya sendiri.
Melihat begitu miripnya Hwan dengan kakaknya membuatku miris. Seperti melihat duplikat Hwan, namun dengan kulit terbakar matahari.
Selama sesaat hanya terdengar tangisan ibu Hwan dan diam dari kakak Hwan, namun keheningan itu pecah saat gadis tadi bangkit, bisa bangkit juga dia. Aku bahkan tidak memperthatikannya tadi, bagaimana reaksinya. Tapi aku melihat perubahan tatapan mata, yang tadinya berisi kepedihan, kini mengeras membentuk sesuatu yang lain. Amarah, mungkin.
“Oppa, kau harus berganti pakaian, kau yang akan mengantar Hwan menuju rumah abu,” kata gadis itu. sejenak aku tertegun mendengar suara tegas gadis itu. gadis yang dari tadi menunduk sedih, menangis, meratap. Kini suaranya setajam pisau. Membuatku meringis. Sebegitu menderitanya dia karena kepergian Hwan.
“Soo-jung-a, siapa yang membuat Hwan menjadi seperti ini?” kata kakak Hwan sambil menerawang.
“Kau boleh tanya kepadanya,” gadis itu menunjukku. “Dia yang lebih tahu.”
Kali ini tatapan gadis itu beranjak ke wajahku, begitu juga kakak Hwan.
“Kau.” Kakak Hwan menggeram saat dia melepaskan tangan ibunya dan berderap menuju tempat duduk bersama Maria.
Dengan sigap dan tanpa tedeng aling-aling, dia mencengkram kerah kemejaku. Menatapku sengit penuh amarah. Maria memegangi tanganku, tapi tak sanggup melepaskan cengkraman kakak Hwan.
“Kau, kau yang meangajak Hwan ikut geng, kau yang membuat Hwan menjadi seperti ini,” ujarnya. “Kembalikan Hwan. Kembalikan.”
Aku sedikit bingung ketika mendengar ucapan kakak Hwan, sedari tadi aku hanya mendapat tatapan kesal dan amarah tapi belum kata-kata. Ibu Hwan pun tak berbicara padaku hari ini, hanya pamannya.
Jadi aku hanya bisa diam, menahan rasa sedihku. Aku ingin sekali berkata bahwa aku bukan penyebab kematian Hwan. Aku berusaha mencegahnya tapi dia tidak menggubrisku. Tapi, aku tidak menemukan kebenaran dalam kata-kataku. Aku sadar bahwa aku yang mengajak Hwan untuk ikut bersamaku. Menjadi keren dengan masuk geng.
“Seung joon benar-benar bukan penyebab kematian Hwan,” kata Maria, dia memegang tangan kakak Hwan yang mencengkeram kerah bajuku. Dia mewakili apa yang ingin aku katakan.
“Aku tidak peduli. Dialah yang menyebabkan Hwan mati. Aku tahu itu dia. Hwan selalu berkata bahwa seharusnya Hwan menjauhi anak ini, tapi Hwan berkata dia tidak bisa. Dialah yang membuat Hwan menjadi seperti ini,” kata kakak Hwan keras.
Aku merasa semakin lama kata-kata kakak Hwan ini seperti perkataan anak kecil yang meminta selalu dibenarkan dalam segala hal. Dan dalam kata-katanya tidak ada sama sekali yang bisa untuk dibenarkan.
Tapi sebelum aku angkat bicara, suara keras, dingin, dan setajam pisau terdengar. Gadis itu berbicara sambil matanya melotot, “Bukan dia yang menyebabkan Hwan mati. Oppa yang selalu mengajari Hwan untuk tidak jadi pengecut. Oppa yang selalu mengjari Hwan untuk membunuh ketakutannya sendiri. Oppa yang mengajari Hwan untuk menjadi laki-laki. Oppa yang manjadikan Hwan pemberani dan bukan pengecut. Tapi Hwan mudah dibohongi. Oppa lupa mengajari Hwan untuk hati-hati dan waspada, Oppa belum mengajari bagaimana mengetahu mana yang berbohong mana yang jujur. Oppa lupa. Oppa selalu lupa. Padahal Hwan hanya punya Oppa.”
Perkataan gadis itu mengendurkan cengkraman tangan Kakak Hwan dikerah kemajaku. Kakak Hwan menatap gadis bernama Soo Jung itu dengan tidak percaya.
Kini aku bisa melihat langsung, wajah gadis itu, kerut amarah memang terlihat disana. Sangat kentara. “Oppa yang membunuhnya. Hwan mati karena Oppa, “ dia berkata lirih.
Tapi tiba-tiba wajah itu mengerut sedih, terlipat-lipat sedih. Kepedihan didalamnya tak tertangguhkan lagi, “Oppa seharusnya mengajarinya untuk mengalah, mengajarinya untuk takut padahal yang masuk akal. Oppa seharusnya mengajarinya banyak lagi. OPPAAAA!!!” gadis itu berteriak, memukul-mukul lengan kakak Hwan. Suaranya yang mengoyak hati, terdengar pedih sekali. Aku bahkan tidak tahan untuk mendengarnya lagi.  Ibu Hwan kembali menangis meraung-raung.
Kini, dengan tangan Maria yang mencengkram lenganku, mengajakku untuk pergi. Maria juga tidak tahan dengan segala isak tangis ini. aku sadar banyak sekali orang yang mencintai Hwan. Gadis ini, menangis seperti belahan jiwanya pergi, seakan-akan kalau Hwan tidak ada, dia tidak, bisa hidup lagi. Suatu bentuk cinta baru yang sekarang baru aku ketahui.
Ibu Hwan yang meraung-raung. Menyadari anak bungsunya pergi tepat saat beliau akan berusia setengah abad. Suatu bentuk cinta yang aku juga baru sadari, ada didunia ini.
Dan kakak Hwan, yang hampir setengah gila mendengar adiknya meniggalkannya duluan. Suatu bentuk perlindungan yang bahkan tak sempat aku pikirkan.
Singkatnya Hwan memiliki apapun didunia ini yang aku tidak miliki. Banyak cinta yang dimiliki Hwan yang aku tidak sanggup miliki, membayangkan pun aku tidak berani. Kalau aku jadi Hwan, aku tidak akan menyia-nyiakan kehidupanku ini. kalau aku memiliki semua itu, aku pasti setiap pagi akan bangun dengan semangat, menyapa ibu yang sedang membuat sarapan didapur, mengetik sms untuk Hyung-ku, dan menjemput Soo Jung untuk berangkat bersama. Barangkali besoknya aku akan meminta Soo Jung untuk jadi pacarku.
Semua milik Hwan ini tersia-siakan. Semua milik Hwan yang ingin aku miliki.

No comments :

Post a Comment